Ruang Palu – Tegas! DPP PDIP Pecat Wahyudin Moridu Gegara Omongan Mabuk “Rampok Uang Negara” Viral Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) kembali menunjukkan ketegasannya dalam menegakkan disiplin organisasi. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) partai berlambang banteng moncong putih itu resmi memecat Wahyudin Moridu, politisi asal Gorontalo, setelah sebuah video dirinya dalam kondisi diduga mabuk mendadak viral di media sosial.

baca juga:Mendagri Dukung Penuh Percepatan Program MBG, Teken Keputusan Bersama Lokasi SPPG di Daerah
Dalam video berdurasi singkat yang beredar luas, Wahyudin terdengar melontarkan kalimat kontroversial: “Rampok uang negara.” Ucapan yang keluar di tengah kondisi tidak sadar itu sontak menuai gelombang kritik dari publik, karena dianggap merusak citra partai dan merendahkan martabat wakil rakyat.
Video Viral, Publik Murka
Rekaman yang diunggah warganet menampilkan Wahyudin dengan
nada tinggi melontarkan ucapan yang tidak pantas. Meski berlangsung singkat, potongan video tersebut langsung menyebar di berbagai platform, memicu komentar pedas dari masyarakat.
“Ini mempermalukan rakyat yang memilihnya,” tulis seorang warganet. Ada pula yang menyindir, “Kalau mabuk saja ucapannya begitu, bagaimana kalau sadar?”
Gelombang kekecewaan inilah yang kemudian menekan partai untuk
segera mengambil tindakan tegas.
Langkah Cepat DPP PDIP
Melalui konferensi pers, DPP PDIP mengumumkan keputusan pemecatan Wahyudin Moridu dari keanggotaan partai. Menurut pengurus DPP, pernyataan tersebut jelas mencoreng nama baik partai dan bertentangan dengan komitmen PDIP sebagai partai yang berjuang untuk rakyat.
“Kami tidak akan menoleransi kader yang merugikan rakyat atau mempermalukan partai. Berdasarkan mekanisme organisasi, Saudara Wahyudin Moridu resmi diberhentikan,” tegas salah satu pengurus pusat.
Klarifikasi Belum Datang
Hingga kini, Wahyudin belum memberikan klarifikasi resmi. Namun pembelaan itu justru menimbulkan kontroversi baru.
“Pejabat publik harus bisa mengendalikan diri, apapun kondisinya. Tidak ada alasan mabuk atau tidak mabuk, ucapannya tetap bisa merusak,” ujar seorang pengamat politik di Gorontalo.
Dampak Politik
Pemecatan Wahyudin menambah daftar panjang politisi yang harus terhenti kariernya akibat perilaku pribadi yang terekam publik. Di era media sosial, satu kalimat saja bisa viral dan meruntuhkan reputasi.
Pengamat politik menilai kasus ini menjadi peringatan keras bagi seluruh kader partai politik. “Bukan hanya PDIP, tapi semua partai harus belajar. Integritas bukan hanya soal kebijakan, tapi juga perilaku sehari-hari,” kata analis politik Universitas Indonesia.
Pesan Tegas
Bagi PDIP, keputusan ini bukan sekadar soal nama partai, melainkan bentuk komitmen menjaga kepercayaan publik. Partai menegaskan akan terus menindak tegas siapa pun kader yang melanggar etika atau merusak citra perjuangan partai.
Kasus Wahyudin menjadi pengingat bahwa dalam dunia politik, satu ucapan bisa menghancurkan segalanya. Dari kursi partai hingga reputasi, semua bisa lenyap hanya karena satu momen tak terkendali.





